Dilema Murah SIM Card
Saat ini kelihatannya persaingan di antara semua operator layanan SIM card untuk handphone sedang berlomba-lomba menawarkan tarif yang paling murah.
Dimulai dari iklan murahan oleh XL Bebas bertajuk bestiality yang diperankan oleh seorang pria gendut jelek yang mengatakan bahwa dia akan mengawini monyet apabila ada operator SIM card yang menawarkan tarif murah tidak hanya ke sesama operator.
…bahkan sampai tajuk polygamy bestiality yang mengawinkan (lagi) si tokoh pria jelek dan gendut dengan seekor kambing.
Namun, selidik punya selidik, ternyata banyak juga aturan-aturan tersembunyi yang sudah ditetapkan terhadap kartu-kartu SIM tersebut.
Kelihatan bahwa mereka memang sengaja bermaksud menjebak orang-orang yang mudah termakan iklan murahan.
Yang ingin lebih saya soroti di sini adalah efek samping dari perlombaan tarif sengit antar operator-operator ini.
1. Apakah mereka dapat memastikan kemampuan mereka untuk memberi pelayanan yang konsisten dengan menetapkan tarif yang murah? Yang diinginkan masyarakat bukanlah tarif paling murah, tapi pelayanan paling memuaskan dengan tarif terjangkau. Saya pribadi sama sekali tidak tertarik dengan tarif murahan yang diumbar-umbar operator tersebut karena saya sudah melihat bagaimana beberapa operator di Indonesia sangat tidak konsisten dalam memberikan layanannya. Better safe than sorry.
2. Bagaimana dengan bahaya radiasi handphone dikaitkan dengan penggunaan lebih lama karena tarif yang murah?
Orang cenderung akan menggunakan handphone lebih lama dan lebih sering (karena tarif murah) yang mungkin efeknya akan menyebabkan kanker pada otak.
Cara menghindari bahaya radiasi:
- Use hands-free to decrease the radiation to the head. (gunakan hands-free; tapi menurut British Consumers’ Association, penggunaan hands-free malah dapat meningkatkan radiasi hingga tiga kali lipat tergantung penempatan handphone)
- Keep the mobile phone away from the body. (jauhkan handphone dari badan saat digunakan)
- Do not telephone in a car without an external antenna. (jangan menelepon dalam mobil tanpa antena eksternal)
3. Menurunnya kualitas hidup masyarakat yang mengincar jam-jam tarif termurah.
Para kekasih akan begadang larut malam demi menelepon dengan tarif murah. Terutama golongan ABG yang belum dewasa dan golongan dewasa yang gagal mendewasa.
Hasilnya?
Generasi berotak kosong yang sudah dicemari oleh radiasi handphone.
Wake up, people!
Jangan mau-maunya dijajah oleh taktik bisnis murahan dan tidak ramah lingkungan kayak gini!
